Hati-hati Tanya "Kapan"

Dalam fase kehidupan tentunya akan melewati beberapa momen yang seringkali menarik untuk diketahui khalayak. Setiap orang pastinya pernah atau bahkan sering menjadi objek atas pertanyaan "kapan" tersebut. Dan tidak sedikit pula kita sendiri yang juga sering mengulang pertanyaan yang sama seputar "kapan". 




Berikut beberapa alasan kenapa harus hati-hati ketika bertanya "kapan" pada teman di sekelilingmu. Karena kadang pertanyaan nyinyir seperti itu akan bersifat seperti dua mata pisau. Satu sisi akan mampu memberikan motivasi terkait jawaban waktu, atau justru malah membuatnya kesal karena merasa terganggu privasinya.

Kapan Lulus? | Kapan Wisuda?

Pertanyaan itu biasanya melanda mahasiswa tingkat akhir yang sedang dilanda kepenatan ketika skripsi ataupun penelitian tugas akhir studinya. Biasanya momen yang seringkali didapati adalah ketika bertemu teman lama yang mungkin hanya sekedar ingin menyapa dengan memulai obrolan. Reuni, ya ketika reuni sekolah misalnya ada teman yang pasti menanyakan kondisi perkuliahan saat itu. Apalagi ketika teman seangkatan di kampus berbeda atau di prodi lainnya sudah memposting momen bahagia kelulusannya. 

Tapi tahukah kalian? Dibalik inginnya seseorang menjawab pertanyaan itu dengan percaya diri dan bangga, ada banyak kisah drama selama pengerjaan penelitiannya. Tak banyak orang yang tahu seperti apa usaha dan perjuangan yang ia lakukan demi  tanda tangan pada lembar pengesahan dan berpindahnya pita pada topi toga. Dan tak banyak yang mengetahui pula jika ternyata setiap malamnya ia hanya tidur tiga jam sehari, karena harus begadang mengerjakan penelitian. Ia yang harus bolak-balik menemui dosen pembimbingnya namun tak kunjung mendapatkan acc. Entah berapa banyak lembaran kertas revisian yang ia keluarkan. Waktu akhir pekannya kini tak lagi bisa dinikmati bersama keluarga ataupun teman-tamannya karena harus berburu buku di perpustakaan. Dan mungkin masih banyak hal yang tak kita ketahui bahwa sebetulnya ia tidak diam dalam menggapai cita-citanya.

Kapan Nikah?

Lulus kuliah udah, berpenghasilan alias kerja juga udah. Nah, saatnya diserang dengan pertanyaan "kapan nikah?" Kondisi yang dianggap sudah mapan secara finansial akan mudah sekali dinilai waktu yang tepat untuk menikah. Padahal memutuskan menikah tak hanya perihal materi. Layaknya ujian naik tingkat, perlu persiapan sebelumnya yaitu ilmu. Bekal menikah itu bukan sekedar biaya ina-inu, tapi juga harus punya bekal ilmu agama untuk berkeluarga nanti. Sebelum menikah juga sebaiknya seseorang telah release terhadap masa lalunya, terutama bagi mereka yang memiliki permasalahan inner child. Ketika seseorang belum mampu menjawab pertanyaan itu dengan jawaban waktu spesifik, jangan memaksanya untuk menjawab lebih, apalagi menyalahkannya terlalu banyak memilih. Karena, Allah tahu waktu yang tepat untuk mempertemukan pasangan hidupnya. 

Kita juga pasti tak mengetahui jika ternyata selama ini selain ia sibuk menabung pundi-pundi uangnya, ia juga sibuk belajar ilmu persiapan nikah. Mengikuti kajian pra nikah, membaca buku seputar munakahat, mengikuti seminar parenting, membekali dirinya agar mentalnya siap berkeluarga dan menjadi orang tua. Dan tentu kita tak pernah tau berapa malam ia habiskan untuk bertemu Allah dalam salatnya, ia hadirkan dirinya dalam doa penuh pengharapan, hingga ia tumpahkan air matanya. Setiap kali datang waktu mustajab dalam berdoa, ia yang tak pernah absen untuk bertemu Rabbnya. Sekedar menyampaikan inginnya, agar dipertemukan dengan pasangan hidupnya. 

Kapan punya anak? | Udah Hamil?

Pasangan yang sudah menikah pasti akan menemui pertanyaan itu dalam fase hidupnya, entah ditujukan pada si suami ataupun istri. Dalam Islam dijelaskan pula salah satu tujuan menikah yaitu untuk memperoleh keturunan yang sholeh (QS An-Nahl: 72). Namun tentunya setiap orang memiliki waktu terbaik yang berbeda untuk kelak dipercaya menjadi orang tua bagi anak keturunannya. 

Kita tak pernah tau jika selama masa pernikahan mereka telah banyak melakukan upaya agar mendapatkan keturunan. Mereka percaya hal tersebut bagian dari ikhtiarnya. Berdoa pada diri sendiri mungkin telah mereka habiskan ratusan malam, tak jarang pula mereka menitipkan doanya pada teman yang hendak beribadah ke Baitullah. Beragam makanan yang mampu membantu menyuburkan hormon telah dikonsumsinya, menjaga dan meningkatkan kesehatan telah pula mereka lakukan. Belajar mengasuh anak pun tak ayal mereka lakukan untuk melatih jiwa keibuan/kebapakan dan menghadirkan kelembutan hatinya pada seorang anak. Untuk satu hal yaitu kepercayaan Allah pada mereka untuk menjadi orang tua nantinya, tak hanya sekedar membesarkan hingga dewasa tapi mendidik dengan sepenuh cinta.

-----

Ketika beragam upaya telah dilakukan, kini tinggal tangan Tuhan dan kehendak-Nya untuk memberikan jawaban atas segala doa. Ingat kembali, bahwa Allah akan mengabulkan doa hamba-Nya dengan tiga cara:
1. YA, maka kita akan mendapatkan yang kita minta
2. TIDAK, maka kita akan mendapatkan yang lebih baik
3. TUNGGU, maka kita akan mendapatkan yang terbaik sesuai kehendak-Nya.

Karena Allah tidak pernah terlambat, dan Allah juga tidak tergesa-gesa. Dia selalu tepat waktu.

Tidak ada komentar:

Sila tinggalkan jejak di laman blog ini, ketika sudah membacanya :)

Diberdayakan oleh Blogger.