Kenapa Resign

Foto Bersama Unit Market, Sales, Product Development

Officially, aku efektif resign dari perusahaan tempatku bekerja sejak tanggal 27 Maret 2018. Ternyata udah 5 tahun lebih 8 hari aku bergabung dan berkarir di salah satu perusahaan perbankan syariah di Indonesia. Bank Syariah yang ketika pertama kali aku apply surat lamaran dan CV yang sama sekali ga tau kalau ada bank syariah tersebut. 😀 hihihi... Berbekal ijazah Diploma kala itu, meski masih termasuk alumni Gizi dari IPB tapi tetep pede aja sih buat apply. Apalagi perbankan termasuk salah satu perusahaan yang sering open recruitment untuk para kandidat dari all major pendidikan. Itulah kenapa,  setelah aku bergabung di perusahaan banyak ketemu sama kakak senior IPB. Kenyataan ini yang membuktikan yang katanya Institut Perbankan Banget telah banyak menduduki posisi di kantor yang berurusan sama uang, uang nasabah lebih tepatnya. 😆
-----

Kenapa Resign?

Back to the point of story, 
Wacana pengen resign seringkali aku omongin ke temen-temen deket di kantor saat itu. Tapi ya emang selalu jadi wacana, sampe temenku pun udah bosen kayaknya dengernya karena ga pernah ada action yang dimaksud. Maklumlah ketika itu dominan alasan resignnya adalah karena hubungan sosial dengan teman sekantor atau kadang atasan (upss) yang bikin ga betah. Sebagai bagian dari  anak Gen Y, ternyata ada benarnya tentang kepribadiannya dalam menghadapi dunia kerja dengan karakter yang seringkali berpindah kantor. Beda banget emang sama orang-orang Gen X atau bahkan Baby Boomers yang bisa tahan dan betah untuk bekerja sampai masa pensiunnya. Meski bagiku bekerja di kantor bank syariah ini adalah masa kerja paling lama yang kujajaki dibandingkan ketika itu pernah bekerja sebagai ahli gizi di Rumah Sakit yang hanya menghabiskan waktu masa probation.

Ternyata benar, segala sesuatu emang harus ditentukan dari niat. Dan niat itulah yang akan juga dinilai, apakah akan termasuk bagian ibadah dan mendapatkan pahala, atau tidak. Entah sejak kapan tepatnya, aku menjalani hari-hariku sebagai karyawan adalah agar mendapat penghasilan tetap untuk bisa lanjut kuliah. Karena ketika mengawali karir di bank syariah memang sekaligus sebagai mahasiswa ekstensi program sarjana di Universitas Sahid. Dalam teori pengambilan keputusan dalam organisasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah tekanan dari luar. Tapi tenang, disini aku bukan mau bahas tentang ilmu manajemen hanya sedikit mengadopsi keilmuannya saja. Bahwa faktor tekanan itu pula yang mempengaruhiku untuk segera mengambil keputusan saat itu, melanjutkan karir atau resign. 

Pada 2018 tersebut aku menjalani karir sekaligus sebagai mahasiswa pascasarjana di Sekolah Bisnis IPB, dan mulai mengalami deadline dalam penyelesaian tesis. Tekanan untuk dapat segera menyelesaikan tesis dan studi adalah salah satu alasan sehingga aku akhirnya memutuskan untuk resign dalam bekerja. Karena sejak awal aku seolah mendoktrin bahwa bekerja agar dapat seiring menyelesaikan kuliah, ketika bekerja yang menurutku menjadi faktor penghambat (dhi adalah manajemen waktu) maka aku pun harus mengambil keputusan. Tentunya dengan banyak pertimbangan, yang utama adalah dalam hal finansial karena akan berhubungan dengan keberlanjutan studi dan kehidupanku pasca resign. Mulailah cek saldo tabungan dan memperhitungkan secara matematika apakah nilai tersebut akan mengantarkan hingga selesai masa studi? Namun, aku tak pernah mengabaikan ilmu matematikanya Allah SWT seperti yang seringkali diajarkan Ust Yusuf Mansyur, agar tak pernah takut dan khawatir pada rezeki, karena Allah telah mengaturnya dan takkan tertukar. 

Alasan pendukung lainnya adalah tujuan hidupku yang memang baru kutemui dan kusadari ketika bimbang dalam menjalani karir saat itu. Mungkin dulu hanya mampu berpikir setelah lulus kuliah supaya bisa kerja kantoran dan berkarir sampai top management. Menjalani dan merasakan seperti apa berkarir di perusahaan, aku mulai melakukan pembenahan diri terhadap apa yang ingin aku jalani. Sadar bahwa hidup ini tidak untuk diri sendiri, kuinginkan diri ini mampu memberikan manfaat pada sesama. 

Meski tak banyak yang dimiliki untuk dapat berbagi, maka kunilai bahwa dengan belajar dan berbagi adalah caraku untuk dapat mencapai kebahagiaan. Sekolah dan belajar bagiku bukan hanya sekedar untuk selembar ijazah, jauh dari itu kuinginkan pembelajaran yang lebih dalam tentang esensi hidup dan kebermanfaatan. Berharap agar ilmu yang diperoleh agar dapat bernilai manfaat dengan cara berbagi ilmu. Ya, ku ingin menjadi seorang pengajar. Karena profesi dan bidang tersebut akan senantiasa membuatku untuk dapat terus belajar dan mengembangkan diri.

"Setiap keputusan yang diambil adalah bagian sebuah tanggung jawab, maka dalam setiap keberanian perlu juga sebuah pertimbangan yang matang".

Tidak ada komentar:

Sila tinggalkan jejak di laman blog ini, ketika sudah membacanya :)

Diberdayakan oleh Blogger.